Abstract

Abstract:

The transmission of knowledge in the context of Javanese gamelan music underwent significant changes over the course of a busy twentieth century. Whereas the previously implied learning patterns involved the paramount importance of kinship and neighborhood ties, the postcolonial condition, embedded in a modern nation-state apparatus, promoted seemingly modern technologies of learning and transmission—notably written notation and academic institutions. The aim of this article is to complicate this modernization narrative by drawing on contemporary anthropological theory. Approaching the issue of knowledge transmission through the lens of phenomenology, I argue, allows us to appreciate it as it unfolds in everyday interaction instead of assuming its course under the aegis of abstract macroprocesses.

Penyebaran pengetahuan dalam conteks gamelan Jawa mengalami perubahan yang penting selama abad keduapuluh. Pola pembelajaran yang sebelumnya berlaku melibatkan kepentingan hubungan keluarga dan lingkungan sekitar, sedangkan kondisi post-kolonial, yang diterapkan pada aparat negara bangsa, mendukung teknik pembelajaran dan penyebaran yang dianggap moderen—terutamanya penulisan notasi dan lembaga akademik. Tujuan artikel ini adalah mendalami naratif modernisasi ini dengan mengembangkan dari teori antropologis kontemporer. Saya berpendapat bahwa pendekatan isu penyebaran pengetahuan tersebut lewat fenomenologi memungkinkan kita untuk menghargai caranya munculnya di dalam interaksi sehari-hari, daripada mengganggap perkembangannya di dalam abstraksi proses makro.

pdf

Additional Information

ISSN
1553-5630
Print ISSN
0044-9202
Pages
pp. 94-117
Launched on MUSE
2020-01-13
Open Access
No
Back To Top

This website uses cookies to ensure you get the best experience on our website. Without cookies your experience may not be seamless.