Abstract

Abstract:

This article examines how the performing arts have changed in Banda Aceh since the time of the tsunami (2004–16). It discusses how Acehnese musicians and dancers negotiate their creativity and livelihoods in relation to the sociopolitical and religious transformations they have experienced in last 12 years. These transformations have resulted in the recognition of the performing arts as an expression of Acehnese cultural identity, the rise of sanggar, and the impact of changes in the religious climate on women's performing arts. Finally, it presents four strategies performers use to negotiate the changing performance context in Banda Aceh today.

Abstract:

Di dalam artikel ini, saya melihat perubahan-perubahan dalam seni pertunjukan yang terjadi di Banda Aceh sejak setelah tsunami Aceh (2004–16). Saya membicarakan tentang kreativitas dan kehidupan para pemusik serta para penari di Aceh yang disesuaikan dengan aspek sosial, politik dan agama yang mereka alami selama 12 tahun terakhir. Hasil dari perubahan-perubahan tersebut membuat seni pertunjukan Aceh sebagai identitas budaya Aceh di masa kini. Ini juga tercermin antara lain dengan adanya perkembangan sanggar-sanggar seni di Banda Aceh. Dampak dari perubahan-perubahan tersebut juga bisa dilihat ketika para perempuan yang berkesenian akan selalu menyesuaikan dengan perkembangan agama yang berlaku dalam masyarakat Aceh. Oleh karena itu, saya mendiskusikan empat cara bagaimana para pelatih seni di Banda Aceh menyikapi perubahan-perubahan tersebut dalam konteks seni pertunjukan.

pdf

Additional Information

ISSN
1553-5630
Print ISSN
0044-9202
Pages
pp. 90-121
Launched on MUSE
2019-06-25
Open Access
No
Back To Top

This website uses cookies to ensure you get the best experience on our website. Without cookies your experience may not be seamless.